ul#menu { margin:0; padding:0; list-style-type:none; width:auto; position:relative; display:block; height:30px; font-size:12px; font-weight:bold; background:transparent url(http://i48.tinypic.com/2zgf4mo.jpg) repeat-x top left; font-family:Arial, Helvetica, sans-serif; border-bottom:1px solid #000000; border-top:1px solid #000000; } ul#menu li { display:block; float:left; margin:0; padding:0; } ul#menu li a { display:block; float:left; color:#999999; text-decoration:none; font-weight:bold; padding:8px 20px 0 20px; } ul#menu li a:hover { color:#FFFFFF; height:22px; background:transparent url(http://i48.tinypic.com/2zgf4mo.jpg) 0px -30px no-repeat; } ul#menu li a.current { display:inline; height:22px; background:transparent url(http://i48.tinypic.com/2zgf4mo.jpg) 0px -30px no-repeat; float:left; margin:0; }

Sunday, 8 August 2010

KUMPULAN KHUTBAH JUMAT-IDUL FITRI - IDUL ADHA | Ramadhan: Mengikis Ego Membangun Solidaritas

Ramadhan Syahrush Shabr

Tgl. publikasi: 30/11/2000 10:43 WIB
eramuslimcom - Ramadhan punya banyak nama. Salah satunya adalah Syahrush Shabr (bulan kesabaran), karena selama bulan Ramadhan umat Islam ditempa dan diuji kesabarannya. Secara bahasa, sabar berarti mencegah atau menahan diri, lawan katanya jaza' (mengeluh), sebagaimana tercantum dalam Al-Qur`an: "Sama saja bagi kita (sekarang) mengeluh atau bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri" (QS Ibrahim: 21).



Sabar merupakan inti dari keimanan. Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang ciri-ciri iman. Beliau menjawab, sabar. Perintah sabar memiliki dua sasaran, yaitu sasaran fisik, seperti menahan penderitaan hidup dan sasaran mental, yaitu menahan hawa nafsu.

Sabar memiliki beberapa bentuk, tergantung obyek kesabaran itu. Bila yang harus disabari itu urusan perut dan seksual, maka namanya 'iffah (menjaga kehormatan diri). Orang yang 'iffah adalah yang menjaga diri dari meminta-minta, meskipun ia amat kekurangan.

Sabar terhadap gelimangnya harta disebut zuhud. Sedangkan sabar terhadap kekurangan harta disebut qana'ah. Sabar dalam peperangan berarti syaja'ah (berani), sedangkan sabar dalam menghadapi cacian orang lain disebut salamatush shadr (berlapang dada).

Para ulama membagi sabar menjadi tiga, yaitu sabar dalam ketaatan; sabar dalam menghindari maksiat; dan sabar dalam menghadapi penderitaan. Tentang sabar dalam ketaatan, Allah Swt. berfirman: "Rabb yang menguasai langit dan bumi dan apa-apa yang ada di keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya..." (QS Maryam: 65). Dalam ayat lain, Allah berfirman: "Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi hari dan petang dengan mengharap keridhaannya..." (QS Al-Kahfi: 28).

Abu Thalib Al-Makki dalam bukunya Quutul Qulub (Makanan Hati) mengatakan, "Sebagian besar kemaksiatan yang dilakukan manusia disebabkan lantaran ia kurang sabar terhadap hal-hal yang disukai dan kurang sabar terhadap hal-hal yang tidak disukainya."


Terhadap hal-hal yang disukai seringkali kita tidak sabar, sehingga kita begitu asyik menikmatinya sampai melupakan Allah. Begitu juga terhadap hal-hal yang tidak disukai, seringkali kita tidak sabar. Padahal Allah Swt. Berfirman: "... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui" (QS Al-Baqarah: 216)

Sabar dalam menghadapi penderitaan ditegaskan dalam Al-Qur`an: "Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan kekurangan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar" (QS Al-Baqarah:155).

Sabar dari kemaksiatan berarti menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah Saw. mengatakan surga diliputi oleh hal-hal yang tida menyenangkan, sementara neraka diliputi hal-hal yang menyenangkan.

Nah, ketiga bentuk sabar ini terangkum semuanya dalam ibadah puasa. Betapa tidak, selama puasa kita diminta untuk bersabar dalam ketaatan. Kita tunduk dengan aturan main puasa. Kita tidak berani makan atau minum sebelum waktu maghrib tiba.

Selain itu, kita diminta untuk bersabar menahan lapar dan haus yang merupakan penderitaan fisik. Kita pun diminta untuk bersabar dari melakukan kemaksiatan kepada Allah, karena kemaksiatan-kemaksiatan itu akan membatalkan puasa dan atau membatalkan pahala puasa. Maka, wajarlah jika Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang berpuasa. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dirindukan oleh surga. (sh)




No comments:

Post a Comment