ul#menu { margin:0; padding:0; list-style-type:none; width:auto; position:relative; display:block; height:30px; font-size:12px; font-weight:bold; background:transparent url(http://i48.tinypic.com/2zgf4mo.jpg) repeat-x top left; font-family:Arial, Helvetica, sans-serif; border-bottom:1px solid #000000; border-top:1px solid #000000; } ul#menu li { display:block; float:left; margin:0; padding:0; } ul#menu li a { display:block; float:left; color:#999999; text-decoration:none; font-weight:bold; padding:8px 20px 0 20px; } ul#menu li a:hover { color:#FFFFFF; height:22px; background:transparent url(http://i48.tinypic.com/2zgf4mo.jpg) 0px -30px no-repeat; } ul#menu li a.current { display:inline; height:22px; background:transparent url(http://i48.tinypic.com/2zgf4mo.jpg) 0px -30px no-repeat; float:left; margin:0; }

Sunday, 8 August 2010

KUMPULAN KHUTBAH JUMAT-IDUL FITRI - IDUL ADHA | ISLAM DAN KESEHATAN JIWA

Pada hari ini saya pilihkan sebuah topik khutbah Jum’at yaitu beberapa ajaran Islam dalam menjaga kesehatan mental.
1. Hubungan antara fisik dan jiwa. Contohnya pemenuhan kebutuhan biologis, makan, minum, seks dsb.
2. Timbulnya berbagai penyakit stress atau depresi.
Stress artinya: Setiap permasalahan kehidupan yang dialami menimpa diri seseorang disebut stressor psikososial. Reaksi tubuh ini dinamakan stress. Sedangkan Depresi adalah reaksi kejiwaan seseorang terhadap stresoryang dialaminya.
3. Manusia dibekali oleh Allah Swt. Dengan berbagai motivasi, berbagai kebutuhan. Diantaranya kebutuhan biologis, kebutuhan efektif (emosional dan kebutuhan social.
4. Islam mengajarkan keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan biologis, makan, minim, seks dan sebagainya.
5. Di dalam Al-Qur’an terdapat berbagai isyarat tentang motivasi-motivasi tersebut. Ambil saja misalnya sebagai contoh motivasi takut.

a. Takut adalah instink yang baik dalam diri manusia. Jika tidak ada rasa takut pada diri manusia, maka ia akan bertindak sangat tidak normal bahkan menyalahi kebiasaan seseorang. Namun apabila rasa takut itu telah pada proporsi yang sebenarnya, maka seseorang akan bertindak normal, dan itulah yang disebut di dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya orang yang mengatakan Allah adalah tuhanku, kemudian berprilaku jujur dan lurus, kami utus kepadanya malaikat untuk memberi kabar gembira kepadanya agar ia tidak takut dan tidak bersedih, bahkan Kami janjikan baginya sorga di akhirat nanti”.
b. Motivasi cinta: Cinta adalah instink yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Semenjak manusia lahir, ia telah dibekali rasa cinta kepada orang tuanya. Dan sebaliknya, kasih sayang orang tua kepada anak adalah rasa cinta yang tak pernah putus dan padam sepanjang hayat, Tetapi, apabila rasa cinta ini telah disalurkan secara berlebihan, maka akan terjadi kegoncangan dalam jiwa seseorang. Oleh karena itu, Al-Qur’an telah memberikan batasan-batasan yang solid dan valid dalam menyalurkan rasa cinta tersebut. Allah berfirman: “Kataka hai Muhammad: Apabila orang tuamu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta yang kau usahakan dan perdagangan yang kau takutkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kau idam-idamkan lebih kau cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, serta jihad dijalan Allah, maka tunggulah azab Allah yang akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
c. Motivasi gembira: Kegembiraan yang kita alami dihari-hari yang kita lalui, hendaknya juga dalam batas-batas normal, tidak terlalu berfoya-foya, apalagi sampai melakukan hal-hal yang diharamkan oleh agama.
Seperti dalam menerima kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt, atau dalam merayakan hari-hari bersejarah dalam kehidupan kita, hendaklah dalam batas-batas kewajaran, sehingga kita tidak melupakan tugas-tugas kita yang lain, tidak melupakan orang disekeliling kita, bahkan tidak melupakan kewajiban-kewajiban kita tehadap Allah Swt. Dalam hal ini Allah berfirman: “Mereka sangat berlebihan dalam kegembiraan mereka di dunia ini, sedangkan dunia tidaklah ada artinya dibandingkan dengan kehidupan di akhirat nanti.
d. Motivasi membenci: Membenci adalah juga suatu instink yang Allah bekali kepada seseorang. Ia akan membenci bila melihat sesuatu yang ia tidak sukai. Ada tempat-tempat yang harus kita benci, contohnya adalah bila kita melihat kemungkaran. Dsini kita harus benci bahkan kita harus merubah kemungkaran itu sekuat tenaga kita Baik dengan kekuasaan, dengan nasihat atau hanya dengan hati saja, dan yang terakhir ini dilukiskan oleh Rasulullah sebagai orang yang lemah imannya. Dalam menamkan kebencian ini pun kita harus tidak melampau batas. Sebab kebencian yang melampau batas akan berakibat buruk kepada stabilitas kejiwaan kita. Allah berfirman: “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal Allah menyimpan dalam sesuatu itu kebaikan yang banyak”.
e. Motivasi marah: Marah juga merupakan instink yang dimiliki oleh setiap insan. Orang biasanya akan marah bila melihat atau mengalami perlakuan yang menyinggung perasaannya atau nama baiknya. Namun marah acapkali merupakan pemicu bagi timbulnya prilaku yang kurang terkontrol atau tidak bias terkendalikan. Bahkan tak jarang marah merupaka factor pencetus bagi timbulnya penyakit organic yangs angat membahayakan. Oleh karena itu Allah Swt memberikan batasan-batasan yang agar seseorang jangan sampai melampaui batas dalam menyalurkan kemarahannya. Bahkan dalam beberapa ayat Allah melukiskan bahwa oang mukmin yang paling baik adalah orang yang benar-benar dapat mengendalikan amarahnya. Allah berfirman: “Mereka orang-orang mukmin adalah yang selau menghindarkan diri mereka dari perbuatan keji dan dosa-dosa, serta apabila ia marah segera memaafkan”.




No comments:

Post a Comment